Ada Gunung di Indonesia yang Menyimpan “Api” Berwarna Biru: Kenapa Api Ini Tidak Berwarna Merah?
Kalau biasanya kita membayangkan api, yang muncul di kepala pasti warna merah, oranye, atau kuning. Tapi Indonesia punya fenomena yang bikin aturan itu kelihatan “nggak berlaku”, yaitu blue fire di Kawah Ijen, Jawa Timur. Di kawasan Gunung Ijen, tepatnya di sekitar kawah, bisa terlihat lidah api berwarna biru menyala yang muncul dari celah-celah batu. Sekilas memang terlihat seperti lava biru yang mengalir, padahal sebenarnya bukan lava sama sekali. Fenomena ini berasal dari gas sulfur atau belerang yang keluar dari aktivitas vulkanik dan kemudian terbakar ketika bertemu oksigen di udara.
Beberapa fakta unik di balik api biru Kawah Ijen:
1. Bukan lava yang berwarna biru
Yang terbakar sebenarnya adalah gas-gas sulfur panas, bukan batuan cair dari dalam gunung. Lava sendiri tetap memiliki warna pijar yang umumnya merah-oranye karena temperaturnya sangat tinggi.
2. Sulfur menjadi “bahan bakar” alami
Gas sulfur yang keluar melalui rekahan atau area solfatara kemudian bertemu oksigen. Pada kondisi suhu dan konsentrasi tertentu, sulfur mengalami pembakaran sehingga menghasilkan cahaya biru yang sangat khas.
3. Suhunya bisa ekstrem
Gas yang keluar dari sistem vulkanik Ijen dapat memiliki temperatur yang sangat tinggi, bahkan dilaporkan dapat mencapai lebih dari 600°C. Kondisi panas inilah yang memungkinkan gas sulfur terbakar ketika kontak dengan oksigen.
4. Kenapa warnanya biru?
Warna nyala api tidak selalu harus merah. Komposisi bahan yang terbakar, temperatur, serta proses kimia dalam nyala menentukan spektrum cahaya yang terlihat. Pada pembakaran gas sulfur di Ijen, cahaya yang dihasilkan tampak dominan biru sehingga terlihat seperti neon alami.
5. Siang hari apinya seperti “hilang”
Bukan berarti aktivitasnya berhenti ketika matahari muncul. Cahaya biru dari pembakaran sulfur relatif redup dibandingkan cahaya matahari, sehingga sulit terlihat ketika kondisi sudah terang. Karena itu, fenomena blue fire paling jelas diamati pada malam hingga sebelum matahari terbit.
Yang bikin fenomena ini makin menarik adalah lingkungan tempat blue fire muncul juga ekstrem. Kawah Ijen mempunyai sistem vulkanik-hidrotermal yang kaya gas sulfur dan menghasilkan danau kawah dengan tingkat keasaman sangat tinggi. Penelitian geokimia menunjukkan air kawah Ijen memiliki pH yang bisa berada di bawah 0,3, sementara gas dari sistem vulkaniknya mengandung berbagai komponen seperti sulfur dioksida (SO₂) dan hidrogen sulfida (H₂S). Jadi, pemandangan “api biru” tersebut sebenarnya adalah hasil pertemuan tiga hal: gas sulfur dari dalam bumi, suhu tinggi, dan oksigen dari udara. Yang lebih unik lagi, cahaya biru itu bisa terlihat seperti sungai yang mengalir di lereng kawah karena sebagian sulfur juga dapat mencair dan bergerak di permukaan batu. Dari kejauhan, efeknya memang seperti gunung sedang mengeluarkan lava biru, padahal yang kita lihat sebenarnya adalah proses kimia yang terjadi secara alami.
Jadi, kalau ada yang bilang Indonesia punya “api biru”, jawabannya memang benar—tetapi bukan karena Gunung Ijen punya lava berwarna biru. Blue fire Kawah Ijen adalah hasil pembakaran gas sulfur bersuhu tinggi, dan kombinasi kondisi vulkaniknya membuat fenomena ini terlihat sangat langka dan spektakuler. Alam ternyata memang punya cara sendiri buat bikin “efek neon” tanpa listrik.