Di Indonesia Ada Pabrik Tradisional yang Proses Membuat Mienya Masih Mengandalkan Tenaga Sapi
Kalau biasanya bikin mi identik dengan mesin modern yang serba otomatis, di Bantul, Yogyakarta, ada pabrik yang bikin kita serasa balik ke zaman dulu. Namanya Mie Lethek Garuda, produsen mi lethek di Dusun Bendo, Srandakan. Uniknya, proses mengolah campuran bahan mi masih memanfaatkan tenaga sapi untuk menggerakkan alat penggiling besar. Tradisi ini sudah bertahan sejak sekitar 1940 dan menjadi salah satu ciri khas produksi mi lethek.
Beberapa hal yang bikin proses pembuatan mi ini nggak biasa:
- Sapi bukan sekadar pajangan. Tenaganya digunakan untuk memutar silinder atau alat penggiling berukuran besar yang mencampurkan tepung gaplek dan tapioka. Beban alat yang berat membuat tenaga hewan digunakan sebagai sumber tenaga mekanis sederhana.
- Bahan utamanya bukan tepung terigu. Mi lethek dibuat dari tepung tapioka dan gaplek, yaitu singkong yang dikeringkan. Inilah yang membuat warna mi cenderung kusam kecokelatan, berbeda dari mi instan yang biasanya putih atau kuning cerah.
- Ada proses kukus berulang. Setelah campuran digiling, adonan dibentuk dan dikukus sekitar 1–2 jam. Adonan kemudian kembali digiling untuk membantu mendapatkan campuran dan kadar air yang sesuai sebelum masuk tahap pencetakan.
- Matahari juga ikut “kerja”. Setelah dicetak menjadi untaian mi, produk dijemur menggunakan panas matahari. Artinya, proses produksinya bukan cuma bergantung pada manusia dan sapi, tetapi juga kondisi cuaca.
- Bukan sekadar mempertahankan gaya lama. Cara produksi tradisional ini telah menjadi bagian dari identitas budaya mi lethek. Mi lethek bahkan tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda, sehingga metode tradisionalnya justru dianggap punya nilai sejarah yang perlu dipertahankan.
Yang paling menarik, penggunaan tenaga sapi tersebut sebenarnya punya logika mekanis yang sederhana. Sapi berjalan mengitari alat sehingga gerak lurus tubuhnya diubah menjadi gerakan berputar pada mekanisme penggilingan. Gerakan tersebut kemudian menghasilkan gaya yang cukup untuk mengolah adonan dalam jumlah besar. Jadi, meskipun kelihatannya “kuno banget”, konsepnya sebenarnya merupakan bentuk pemanfaatan energi mekanik yang sederhana dan efisien untuk teknologi pada zamannya. Pabrik Mie Lethek Garuda sendiri masih mempertahankan proses tersebut sebagai bagian dari warisan produksinya, meskipun beberapa tahap seperti pencetakan kini sudah menggunakan mesin.
Jadi, kalau selama ini sapi cuma dibayangin sebagai hewan ternak atau pembajak sawah, di Bantul ada cerita lain: sapi ikut punya “jasa” dalam menghasilkan mi tradisional. Mi lethek membuktikan bahwa teknologi nggak selalu harus modern untuk punya nilai—kadang justru cara lama yang bikin sebuah makanan punya cerita.